Refleksi Harlah GP Ansor ke 87 – Mengkader Di Daerah Terpencil

Refleksi Harlah GP Ansor ke 87 – Mengkader Di Daerah Terpencil, GP Ansor

Oleh Ruchman Basori

Ketua Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Bidang Kaderisasi

 

*Hari ini 24 April Gerakan Pemuda Ansor memasuki usianya yang ke 87. Lahir di tengah bangsa Indonesia memperjuangkan kemerdekaan*. Tepatnya pada tanggal 24 April 1934, kaum muda nahdliyyin ini didirikan oleh KH. Abdul Wahab Chasbulloh.
Sebagai organisasi kepemudaan yang konsen pada masalah-masalah keagamaan (diniyyah) dan sosial (ijtimaiyah), GP Ansor dituntut mempunyai modal sumber daya manusia yang mempunyai kapasitas menggerakan organisasi. Apalagi sesuai dengan namanya, gerakan pemuda, maka harus terus bergerak untuk melakjukan perubahan dan penguatan khidmahnya.

Menggerakan organisasi yang besar seperti GP Ansor, memerlukan tidak saja banyaknya kader penggerak, namun juga kualitas dan kapasitas yang memadahi. Hal ini ditempuh dengan menjadikan kaderisasi sebagai tungku utama.

Di sebuah kesempatan menggembleng kader Gerakan Pemuda Ansor, Ketua Umum Yaqut Cholil Qaumas menekankan pentingnya ngaji, ngader, dan makaryo. Ngaji berarti seorang kader harus mengaji, mendalami ilmu agama atau mencari ilmu pengetahuan lain sebagai sangu melakoni hidup.
Bagi kaum pesantren seperti GP Ansor, sudah mulai melakukan perubahan dari mengaji ke mengkaji. Dari ilmu pengetahuan agama berbasis kitab kuning mulai melengkapi dengan mengkaji kitab-kitab putih ilmu sosial-humaniora dan IPTEK.

Ngader yang terjemahan Indonesianya adalah mengkader. Berarti seorang kader Ansor harus terus-menerus melakukan proses kaderisasi agar meningkat kapasitas yang dimilikinya. Paradigma berfikirnya tertata rapi, terampil berorganisasi, meningkat kapasitas kepemimimpinannya dan terampil melakukan tugas-tugas sosial keumatan.
Mengkader dengan demikian tidak sekedar transmisi pengetahuan (transfer of knowledge) tetapi juga transmisi nilai-nilai (transfer of value) yang ditandai dengan perubahan mentalitas.

Hal ketiga yang menurut Gus Yakut tak kalah pentingnya adalah makaryo adalah bekerja mencari mata pencaharian. Seorang kader Ansor jangan lupa untuk terus bekerja untuk memenuhi hajat kehidupan, agar mandiri tidak tergantung dan menjadi beban orang lain.

Karenanya tema kemandirian menjadi misi GP Ansor, agar para kader terangkat marwahnya. Aktivis Ansor harus tertanam dalam dirinya sifat dan jiwa penolong (Ansor) itba’ dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw, karenanya harus kuat dan mandiri secara ekonomi dan sosial.

Begitu penting dan strategisnya, masalah kaderisasi (ngeder) bagi Gus Yaqut dikatakan sebagai jantungnya organisasi. “Ibaratnya kaderisasi adalah urat nadi organisasi Ansor, karenanya tak boleh ditawar”.

Di Seberang Lautan
Penulis adalah diantara ratusan kader yang ditugasi oleh Pimpinan Pusat Ansor untuk menjadi instruktur kaderisasi. Terjun ke basis-basis anggota dimana Ansor berada. Masa khidmah 2011-2015 penulis dipercaya sebagai Wakil Sekjen Bidang Pesantren, Dakwah dan Kajian Islam dan ditugasi cukup inten mengkader. Berlanjut hingga kini 2015-2021 menjadi Ketua Pimpinan Pusat Ansor Bidang Kaderisasi.

Hampir semua wilayah sudah disinggahi bertemu, berdiskusi dan berdialektika dengan para kader, baik di forum Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD), Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL), Diklatsar, Susbalan hingga PKL Muadalah untuk profesi tertentu.
Banyak kenangan indah, menantang, kadang juga tersandung duka selama proses mengawal kaderisasi Ansor. Jarak tempuh yang harus dilalui sangat jauh, terjal dan menantang bahkan kadang harus menempuh pulau-pualu terluar Indonesia. Kami lalui dengan semangat, karena memang sudah menjadi tugas seorang mentor dan idiolog Ansor.

Salah satunya ditugaskan mengisi Diklat Terpadu Dasar (DTD) ke Kabupaten Banggai Laut, yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Banggai Kepulauan, provinsi Sulawesi Tengah, bersama sahabat Faisal Attamimi Ketua Pimpinan Pusat yang berdomisili di Palu.
Untuk sampai ke Banggai Laut, saya harus naik pesawat Jakarta-Ujung Pandang, Ujung Pandang-Luwuk. Setelah itu, sekitar jam 20.00 naik kapal laut mengarungi samudera baru sampai di Banggai Laut sekitar jam 06.00 pagi. Perjalanan yang cukup menantang bukan?

Penerbangan Makasar ke Luwuk waktu itu satu hari hanya ada sekali penerbangan dan itu ada di jam 16.00. Waktu itu saya sudah di depan gate 3 Bandara Hasanudin Makasar, namun entah kenapa saya tidak dengar pemanggilan untuk naik pesawat, jadinya ketinggalan pesawat dan harus menunda keberangkatan esok harinya.
Di sana telah menunggu sahabat Senior Faisal Attamimi. Terpaksa saya telp sahabat Faisal untuk naik kapal dari Luwuk-Banggai terlebih dahulu, agar kegiatan DTD, tetap berjalan sesuai rencana. Sementara saya harus bermalam di Makasar di sekitar bandara menunggu penerbangan sore hari besoknya.

Uang di kantong hanya 300.000 rupiah. Untuk bermalam di bandara sepertinya tidak mungkin, lalu saya keluar bandara mencari ojek langgananku di sekitar bandara, sebut saja bernama Hendra. Bersama Hendra saya mencari penginapan yang harganya 200-250.000, karena harus saya sisakan 50.000 untuk makan. Dapatlah hotel seharga 225.000 dan masih tersisa uang di kantong 75.000. Lega rasanya. Alhamdulillah tepat jam 16.00 saya bisa berangkat ke Luwuk.

Cerita berbekal uang tinggal 75.000 belum berakhir, karena begitu sampai Luwuk nampaknya Sahabat Faisal, telah mengkontak Pak Gasim Yamani Kankemenag Luwuk yang juga sahabat senior di PMII. Begitu sampai di Luwuk langsung di jamu Pak Gasim, melalui stafnya, karena beliau sedang memimpin rapat. Jam 18.45 di antar ke pelabuhan untuk selanjutnya menyeberang ke Bangga Laut. 75.000 uang di saku tetap utuh alhamdulillah.

Rasa capek terbayar dengan mendaratnya kapal yang kami tumpangi dan kami disambut dengan tangis bahagia kader Ansor di Banggai Laut. Saya bertanya kepada mereka, “Apakah ini masih Indonesia? Mereka jawab, “masih Indonesia sahabatku dan selamat datang di kampung kami”.
Tak terasa tiga hari berlangsung DTD di wilayah terpencil Indonesia. Ada rasa bangga, asa yang membuncah, agar muncul para pejuang-pejuang Aswaja di daerah Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal (3T).

Itu sekelumit cerita betapa medan kaderisasi tidak mudah. Bekal keuangan yang kadang terbatas, tidak menyurutkan para idiolog dan paedagog untuk menggembelng kader untuk penguatan semangat kebangsaan berbalut pemahaman Islam yang rahmatan lil álamin.

Kini wadah ini berusia 87 tahun, berkah komitmen kaderisasi telah muncul jutaan kader Ansor yang siap mengawal ulama, kyai dan NKRI. Perubahan paradigma berfikir tentang pentingnya kaderisasi berbalut komitmen yang kuat dari para Pimpinan Ansor telah berbuah hasil.

Selamat Harlah Ansor ke 87, makin jaya, makin bermanfaat dan bermartabat. Wallahu a’lam bi al shawab.

Pewarta : Imam Khusnin Ahmad

Editor : Has@n AMT

Tinggalkan Komentar

Postingan Terkait