Hikmah Pada Wudhu Sebagai Penopang Kesempurnaan Sholat

Hikmah Pada Wudhu Sebagai Penopang Kesempurnaan Sholat, GP Ansor

Imam Abu Hamid Ghozali menuliskan perihal wudhu, dalam Mukasyafatul Qulub bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa berwudhu, membaguskan wudhunya, lalu shalat dua rakaat, tanpa terbersit suatu urusan keduniaan dalam pikirannya, dia keluar dari dosa-dosanya seperti ketika dilahirkan ibunya.”

Di tengah para sahabatnya, Nabi Saw bertanya,

“Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang karenanya Allah menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat?”

“Mau Ya Rasulullah” jawab para sahabat.

“Yaitu membaguskan wudhu ketika malas mengerjakannya, melangkahkan kaki ke masjid, dan menanti waktu shalat setelah shalat.“.

Kemudian Beliau berwudhu satu kali-satu kali, lalu bersabda,

“Inilah wudhu yang dengannya Allah menerima shalat.“

Beliau berwudhu dua kali-dua kali, lalu bersabda,

“Barangsiapa yang berwudhu dua kalidua kali, Allah memberikan pahalanya dua kali.”

Kemudian beliau berwudhu tiga kali-tiga kali, lalu bersabda,

“Inilah cara wudhuku, wudhu para nabi sebelumku, dan wudlu Khalîl al-Rahmân (Kekasih Allah), Ibrâhîm As.”

Beliau juga pernah bersabda bahwa apabila hamba Muslim berwudhu lalu berkumur, keluarlah dosa-dosa dari mulutnya. Apabila dia menghirupkan air ke hidung dan mengeluarkannya lagi, keluarlah dosa-dosa dari hidungnya. Apabila dia membasuh wajahnya, keluarlah dosa-dosa dari wajahnya hingga yang ada di bawah kelopak matanya. Apabila dia membasuh kedua tangannya, keluarlah dosa-dosa dari tangannya hingga yang ada di bawah kuku jari-jari tangannya. Apabila dia mengusap kepala, keluarlah dosa-dosa dari kepalanya hingga yang ada di bawah telinganya. Apabila dia membasuh kedua kakinya, keluarlah dosa-dosa dari kedua kakinya hingga yang ada di bawah kuku jari-jari kakinya. Kemudian, langkahnya menuju masjid dan shalatnya merupakan ibadah sunnah baginya.

Diriwayatkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththâb Ra mengutus salah seorang sahabat Rasulullah Saw ke Mesir untuk mengambil tirai Ka‘bah. Lalu, orang itu singgah di salah satu wilayah Syam, tempat berdiri pertapaan seorang rahib. Tidak ada rahib lain yang lebih alim dari dia. Utusan ‘Umar ini ingin menemuinya dan mengetahui ilmunya. Lalu, dia mendatanginya dan membuka pintu rumahnya.

Akan tetapi, pintu itu tidak dapat terbuka lebar. Kemudian utusan itu menemui rahib, lalu bertanya untuk mendengarkan dan mengagumi ilmunya. Dia pun mengadukan kepadanya tentang dirinya yang tertahan di pintu rumah tersebut. Rahib itu menjawab, “Ketika kami melihatmu, ketika engkau datang kepada kami, kami takut seperti takutnya rakyat kepada penguasa. Kami takut kepadamu. Kami menahanmu di pintu semata-mata karena Allah Swt berfirman kepada Mûsâ As, ‘Wahai Mûsâ, apabila kamu takut kepada penguasa, berwudhulah, dan perintahkanlah keluargamu berwudhu.

Sebab, barangsiapa yang berwudhu, dia berada dalam perlindungan- Ku perlindungan dari apa yang kamu takutkan. ‘Kami mengunci pintu itu bagimu hingga engkau berwudhu dan berwudhu pula semua orang yang ada di dalam rumah, serta kami melaksanakan shalat. Karenanya, kami merasa tenteram terhadapmu, kemudian membukakan pintu itu untukmu.”

Tinggalkan Komentar

Postingan Terkait